Cari Posting Lainnya

Memuat...

Minggu, 28 Agustus 2011

Lulur Ketan Hitam

Sesudah audit isi lemari, saya menemukan tepung ketan hitam yang saya sendiri sudah lupa kapan belinya. Sepertinya sih umurnya sudah cukup tua. Setelah browsing di beberapa situs, akhirnya saya memutuskan untuk menjemur tepungnya dulu, mumpung matahari lagi terik-teriknya. Sambil dijemur, saya sambil mengendus. Baunya sih nggak apek--kalau di milis, disarankan untuk tidak dipakai kalau sudah berbau apek.

Tapi saya juga tidak yakin kalau tepung ini masih layak pakai. Akhirnya dari sekian banyak situs yang saya temukan lewat google, ada 1 forum yang mendiskusikan tepung ketan hitam untuk lulur. Katanya sih bagus banget, bisa mengangkat kotoran dan sel kulit mati dengan sempurna.

Nothing to lose, akhirnya saya coba campurkan segenggam tepung ketan hitam dengan air sampai kentalnya cukup, lalu campurannya dibalurkan ke seluruh tubuh. Didiamkan beberapa saat, digosok-gosok lalu dibilas.

Hasilnya? Mantaaaappp!! Berasa banget kulitnya jadi bersih.. hehehe.

Ternyata barang di dapur pun bisa disulap fungsinya.
Jadi.. buat yang punya sisa tepung ketan hitam kadaluwarsa seperti saya, silakan dicoba luluran. Lumayan segar lho.. hehehe. *yang baru selesai luluran*

Sabtu, 27 Agustus 2011

10 Local Bites at Penang part 2

Lanjut dari yang sebelumnya, ada 5 lagi rekomendasi makanan khas Penang yang sudah sempat saya cicipi.
Sebenarnya sih (menurut saya) Penang itu kota yang penuh dengan makanan enak. Hanya kemarin saya nggak sempat hunting, jadi baru sempat mencicipi beberapa jenis dari sekian banyak makanan khasnya. Tapi peta makanan yang saya ambil di bandara masih disimpan.. hehehe jadi lain kali saya ada kesempatan, saya pasti akan hunting lagi.

Nah, lanjuuutt.. berikutnya yang sempat saya cicipi adalah :

6. Ais Kacang
Penampakannya mirip es campur Pontianak, bedanya untuk topping Ais Kacang menggunakan es krim. Isinya yang dominan kacang merah, kemudian ada koktil buah, jagung manis pipil. Di atasnya ada es serut yang disiram sirup gula hitam.. hmmm.. 
Di stand tertentu, penjualnya sangat artistik, sampai es krimnya pun dibuat berwarna gradasi cantik seperti ini.
Yang saya suka dari Penang adalah cita rasanya yang tidak terlalu manis atau asin. Sepertinya mereka percaya kalau yang berlebihan itu tidak baik buat tubuh. Jadi Ais Kacang ini manisnya hanya samar-samar, tapi segar dan nggak bikin haus lagi setelah habis dimakan. Nah, yang ini juga saya agak lupa harganya.. kalau nggak salah kisaran RM2.50 - RM3.

7. Penang Rojak
Ini dia yang selalu membuat saya terngiang-ngiang dan kalau boleh di-rating, inilah yang menurut saya paling juara. Dari sekian banyak stand Rojak di Gurney, kepunyaan Mr. Lee, Rojak 77-lah yang menurut saya paling yahud. Bumbunya oke, sampai-sampai kemarin saya beli untuk dibawa pulang.
Stand Rojak 77, menurut saya paling enak rujaknya.
Ada beberapa pilihan porsi untuk rujaknya, mulai dari yang paling kecil RM3.50, isinya standar (nanas, bengkoang, timun). Makin mahal, porsinya makin besar dan variasi isinya makin banyak. Yang RM4 ada irisan cumi yang sudah diproses sehingga rasanya mirip jelly. Paling mahal kalau nggak salah harganya RM6 yang porsinya buesaaar.. dan isinya lengkap.

Semua paket rujaknya disajikan dengan bumbu rujak yang terbuat dari gula hitam plus petis (petis Penang kabarnya terkenal karena enak sekali), irisan cakwe yang sudah digoreng sampai garing, dan remahan kacang cincang. Jika ingin rujak yang pedas, sebelumnya bumbu akan dicampur dengan cabe rawit hijau yang sudah diblender. Hasilnya adalah rasa pedas yang menggigit. Potongan buah-buahan yang asam sangat cocok dimakan dengan bumbu rujak Penang yang manis dan legit, dan meski ada bau petis tapi bumbunya tidak amis karena petisnya tersamarkan oleh wangi gula hitam.
Cakwe garingnya enaak.
Bumbu yang dikemas untuk take away pun harganya sangat terjangkau menurut saya, dengan RM5.50 kemarin saya memboyong 1 kemasan bumbu rujak Mr. Lee sebesar 1 kaleng susu kental manis untuk dinikmati di rumah. Dan seperti yang dijanjikan Mr. Lee, rasa bumbu rujak dalam kemasan itu persis sama dengan bumbu yang dia olah langsung di stand-nya. Daya tahannya bisa sampai 6 bulan di dalam kulkas, tapi sepertinya nggak sampai 3 bulan juga sudah ludes nih.
 
8. Kembang Tahu
Iya sih, di Indonesia juga ada kembang tahu.. tapi menurut saya beda negara pasti ada beda rasanya. Kembang tahu Penang sudah sempat saya cicipi di beberapa tempat berbeda, mulai dari pasar sampai toko yang khusus menjual kembang tahu sebagai komoditi andalan.

Kuahnya kental dan manis, lumayan kenyang juga lho makan seporsi.
Kesimpulannya, kembang tahu Penang lebih padat dari kembang tahu Indonesia. Tingkat kepadatannya hampir setara dengan tahu sutra! Beda dengan produk lokal yang "enteng" dan lembut, kembang tahu Penang terasa "berat". Beli 1 porsi aja kemarin untuk dimakan berdua.

Kuahnya pun menurut saya kurang mantap, kurang afdol di lidah saya yang sudah terbiasa dengan kembang tahu lokal. Mereka tidak pakai jahe dan kuahnya kental, dominan gula hitam. Sedangkan kembang tahu lokal favorit saya kuahnya encer dan jahenya nendang. Sayangnya saya sudah beberapa tahun ini nggak berjodoh dengan penjual kembang tahu lokal, jadi ya begitu ketemu kembang tahu disana, saya puas-puasin deh.

Kalau beli di pasar, kembang tahu yang bisa untuk 2 porsi ini hanya RM1.20. Kalau di toko spesialis kembang tahu, harganya mencapai RM3 per porsi.

9. Chee Cheong Fun
Saya ingat dulu jaman SMU, ada jajanan di depan sekolah yang hampir tiap hari saya beli. Namanya Chi Cong Fan, sepertinya asalnya dari Medan. Nah si Chee Cheong Fun Penang ini mungkin nenek moyangnya, karena yang disajikan lumayan mirip. Bedanya Chi Cong Fan yang beredar di Indonesia sudah banyak dimodifikasi supaya cocok dengan lidah lokal.

Yang lembaran-lembaran ini favorit banget kalau beli Chicongfan di penjual langganan
Seporsi hidangan ini cuma terdiri dari lembaran yang mirip kwetiaw (sepertinya terbuat dari tepung beras), yang nantinya dipotong dan diberi saus gula hitam, sambal (kalau kita minta) dan taburan wijen. Rasanya lumayan unik, tapi dominan manis jadi mungkin lebih cocok dimakan dalam porsi kecil ya. Harganya kalau tidak salah RM2 - RM3.

10. Floss Sandwich
Dikenalkan ke sandwich ini oleh seorang teman yang orang lokal, otherwise mungkin saya nggak akan pernah tahu ada jenis sandwich seperti ini. Penjualnya sangaaaaat ramah, setiap hari dia setia parkir mobilnya dan berjualan di depan salah satu gedung yang ada di seberang gereja Katolik di daerah Pulau Tikus.

Begitu kita pesan sandwichnya, dia akan mulai memasukkan roti yang sudah dibelah 2 ke panci tinggi untuk dikukus. Tujuannya supaya si roti jadi lembut--Rotinya juga tipe roti jadul yang seratnya agak padat, mirip roti tawar yang dipakai untuk es tong-tong. Setelah rotinya hangat, diselipkan sekeping dendeng dan juga setumpuk abon. Oh iya, sandwich ini tidak halal ya, karena sepertinya materi pelengkapnya terbuat dari pork.
Yummy.. cinta banget deh sama abonnya.
Tadinya saya pikir bakalan kenyang banget nih makan seporsi sandwich ini. Tapi ternyata kelasnya hanya setara cemilan, hehehe.. cukup enteng untuk dimakan sore-sore dengan segelas teh. Dendengnya sama sekali tidak alot dan abonnya tidak asin seperti yang saya bayangkan. Semuanya pas!
Lagi-lagi saya lupa harganya.. kalau tidak salah berkisar antara RM2 - RM2.50.

Nah, hopefully saya bakal balik lagi kesana dan sempat mencicipi makanan lainnya ya.. hehehe nanti saya akan update lagi (semoga).

Jumat, 26 Agustus 2011

10 Local Bites at Penang part 1

Karena ikut nemenin bokap ke Penang untuk check up, saya dapat kesempatan untuk jalan-jalan dan menjelajah makanan di kota yang katanya cukup tua itu.

Kalau lihat di peta yang saya comot dari bandara, sebenarnya banyak sekali jenis makanan khas yang dijagokan oleh kota ini (wong sampai ada petanya segala). Tapi karena kemarin tujuan kami berobat, jadi saya kurang hunting, hanya bisa menikmati beberapa yang saya temui sambil lewat saja.

Penginapan saya kemarin dekat sekali dengan Gurney Plaza, dan di belakang mal itu ternyata ada Hawker Center alias pusat jajanan kaki lima yang ramaaaaiiii banget kalau malam. Jenis makanan yang dijual bermacam-macam dan ternyata setelah ditelusuri, tempatnya dibagi dua : bagian depan menjual makanan yang hampir semuanya khas Chinese, yang bagian belakang makanannya khas Melayu dan India.

Gurney Drive Hawker Center yang padat.
Karena saya lebih dulu sampai di bagian depan, jadi saya hanya sempet mencicipi makanan di bagian depan saja. Sampai ke bagian belakang, perut sudah terlanjur kenyang. Nah, ini list yang sempet saya cicipi, dan menurut saya juara :

1. Fried Oyster
Kalau baca judulnya, yang terbayang pasti kerang digoreng. Saya dapat kesempatan untuk ngintip proses pembuatannya yang ternyata melalui cukup banyak tahapan.
Om penjual sedang membalik adonan yang sudah matang sebelah.

Hasil jadinya, menurut saya seperti okonomiyaki, tapi yang ini isinya oyster. Baidewei, oyster itu artinya tiram ya, bukan kerang? Rasanya menurut saya lumayan enak, adonan tepung yang dicampur telur dan dimasak dengan bumbu rahasia si penjualnya bisa berpadu dengan rasa kerang yang agak kenyal. Bau amis kerang tidak tercium lagi dan rasanya pun tidak terlalu gurih, jadi pas sekali dimakan dengan saos celupan yang mirip sambal.
Mirip pancake, tapi toppingnya kerang.
Adonannya juga tidak terlalu padat seperti pancake, tapi agak ringan jadi nggak berat di perut. Tapi untuk cemilan, harganya cukup berat.. hehehe seporsi paling kecil harganya RM6, yang medium RM9 dan yang besar RM12. Jarang ada yang memesan porsi besar, mungkin karena di sekitar situ banyak yang berjualan makanan yang lebih "berat".

2. Pasembur
Pada saat saya berkeliling melihat-lihat apa saja yang mau saya makan di Hawker Center ini, ada 1 stand yang menarik perhatian. Penjualnya bapak India separuh baya yang nggak capek-capeknya berteriak, "Rujak, rujak. Pasembur, pasembur.". Mengikuti saran bokap, saya pun memesan seporsi.

Bapak sumringah ini penjual yang semangat, dia juga pernah diliput di acara traveller luar negeri lho!
Tapi saya salah langkah! Karena sistemnya si Pasembur ini, kita memilih dulu apa yang ingin kita makan (semuanya goreng-gorengan mulai dari kentang sampai kepiting), diletakkan di 1 piring.
Macam-macam gorengan di Pasembur.
Nantinya gorengan yang sudah kita pilih itu dipotong-potong jadi bite size--sampai sini, saya paham sekali metodenya. Yang tidak saya duga adalah irisan bengkoang dan ketimun yang ditaburkan ke atas potongan gorengan tadi, yang membuat porsinya jadi mendadak double. Kemudian finishing-nya disiram kuah bumbu yang berwarna merah.

Porsinya jadi buanyaak padahal jenis gorengan yang dipilih hanya 4 macam.
Meskipun rasanya agak aneh, dominan manis dari bumbu merahnya tadi. Tapi menurut saya lumayan segar dan unik. Rasa gorengan yang asin, dimakan dengan selingan bengkoang-ketimun iris yang segar, kemudian ditutup dengan rasa manis. Harus dicoba kalau nanti ada kesempatan ke Penang.
Oh iya, harganya tergantung dari jenis gorengan yang dipilih. Mirip di warung Padang, kalau milih udang dan seafood lainnya, harganya jadi agak mahal. Tapi dengan porsinya yang besar, menurut saya worth it!

3. Wan Tan Mee
Yang satu ini nggak halal.. hehehe karena ada potongan daging merah untuk topping-nya. Yang saya makan di Gurney kemarin itu standnya ada di bagian belakang, penjualnya tante-tante dan wan tan mee-nya sedaaaaaap sekali.
Penggemar mie pasti akan captivated sama rasa bumbunya.
Bumbunya berasa banget dan pangsitnya gendut-gendut. Mienya pun halus, nggak besar-besar seperti mie ayam dan hasil rebusannya pas, nggak terlalu kenyal atau terlalu lembek. Ada 2 macam yang ditawarkan, yang pedas dan yang biasa. Kalau menurut saya sih, yang pedas lebih nendang.. hehehe. Harganya sekitar RM 4.50 seporsi.

4. Pok Piah
Terjemahan bebasnya Lumpia Basah, soalnya pas dimakan miriiip banget sama Lumpia Basah Bogor. Hanya yang ini kulitnya agak lembek dan isinya juga lebih bermacam-macam, nggak cuma irisan bengkoang dan orak-arik telur aja.

Rasanya lumayan enak, harganya juga tidak terlalu mahal. Kalau nggak salah hanya RM3 seporsi.

5. Assam Laksa
Impuls buying, hehehe.. karena melihat antrian yang panjaaaang di stand-nya, saya jadi penasaran dan akhirnya ikutan antre. Kabarnya Assam Laksa ini adalah salah satu dari 100 makanan terenak di dunia, lebih enak dibandingkan Rendang Indonesia. Memang rasanya otentik sekali, dengan bumbu kuah asamnya, menurut saya rasanya betul-betul eksotis.
Assam Laksa, a treat for the tongue!
Yang ada di dalam seporsi hidangan ini semuanya khas asia, kuahnya dari ikan yang direbus bersama bumbu rempah dan asam (mirip asam jawa). Tidak ada topping, isinya hanya mie besar (udon), irisan sayur dan irisan shallot. Kuahnya sendiri sudah kaya rasa, tapi kalau mau bisa ditambahkan irisan cabe rawit segar untuk menambah sensasi pedas. Ada juga sesendok bumbu petis yang disendokkan sesaat sebelum mangkok diserahkan ke pembeli. Harganya cuma RM3.50 untuk porsi kecilnya, yang porsi medium RM4.50.




Bersambung ke sini ya, biar nggak terlalu panjang.