Cari Posting Lainnya

Memuat...

Jumat, 20 Juli 2012

Six Delicious Movies by Eggknock

Mentang-mentang udah terjun ke dapur, film yang ditonton sekarang hampir semuanya berbau makanan. Sudah gitu, habis nonton pasti jadinya lapar. Nyiksa juga sih ya kalau caranya begini.. hehehe.
Tapi nonton film tentang makanan atau masak-memasak berguna banget lho untuk memperluas wawasan, apalagi kalau fokusnya benar-benar membahas soal masakan atau makanan, bukan ke cerita dramanya.

Belakangan ini saya nonton beberapa judul yang mau saya rekomendasikan untuk disimak kalau Anda pecinta makanan atau masakan :

1. Pattiserie Coin De Rue
Sinopsis : Tentang seorang gadis desa yang bekerja di pattiserie terkenal. Pada akhirnya dia jatuh cinta dengan dunia kue, dan dengan keluguannya dia juga berhasil menyembuhkan trauma seorang pastry chef yang sempat berhenti dari dunia baking
 


Opini : Ceritanya ringan dan alurnya asik. Meski bumbunya drama, tapi artis utamanya piawai membawakan karakternya sehingga tidak terkesan berat dan jadi mampu mengimbangi semua karakter lain yang serius. Chemistry antara gadis desa yang polos dan sang chef yang trauma juga mengalir dengan sangat baik, jadi meski tanpa bumbu asmara, filmnya tetap terasa hangat.
Rating saya : 4.5 / 5


Hungriness Level : 4.9 / 5, maximum craving for cakes!!! Kuenya cantik-cantik dan sering di-close up. Habis nonton ini pasti semangat banget jadi pattisierre (dan pastinya semangat banget ke toko kue!) 
Moral Of the Story : Ketekunan dalam berproses pasti menghasilkan pencapaian yang manis.

2. Le Grand Chef
Sinopsis : Ceritanya berfokus pada dua orang cucu dari koki kerajaan Korea jaman dulu yang selalu bersaing sejak kecil, dan perlombaan masak untuk memperebutkan pusaka kerajaan sebagai bukti kalau kakek mereka memang benar-benar seorang koki kerajaan.



Opini : Porsi drama dan bahasan masakannya 50-50, seimbang banget antara seru-seruan ceritanya dan kepengen makannya. Sinematografi dan musiknya juga bagus, jadi meski porsi masak-memasaknya kurang banyak, penampilan makanannya tetap menggugah selera. Ada 1 adegan di film ini yang betul-betul mengharukan, dimana tokoh utamanya harus merelakan sapi kesayangannya untuk disembelih. Duh.. saya aja sampai nggak tega mau makan sapi lagi.


Rating saya : 4 / 5
Hungriness Level : 4.5 / 5, tampilan makanannya semua oke banget. Pengambilan gambarnya juga menarik, ditambah lagi ada adegan makannya jadi lengkap lah ngilernya :D
Moral Of The Story : Sabar dan niat baik, kalo dibarengin dengan ketulusan, pasti bisa membawa kita sampai ke tujuan.

3. Osen
Sinopsis : Osen ini ceritanya diambil dari manga dengan judul yang sama dan diadaptasi, jadi untuk dramanya terasa lebih kalem. Jadi ceritanya tentang Osen, pemilik restoran Isshouan yang mengutamakan teknik memasak baheula ala Jepang. Semua aspek di restoran itu mempertahankan gaya Jepang kuno, bahkan si Osennya aja seliweran pakai kimono kemana-mana. Konfliknya nanti adalah bagaimana Isshouan yang idealis bersaing dengan restoran-restoran modern yang profit-oriented.



Opini : Ini adalah salah satu dari sekian banyak dorama Jepang yang saya tonton sampai berulang-ulang. Aktrisnya cantik, aktingnya juga bagus banget. Dia bisa membawakan peran Osen yang lugu plus berwibawa dengan sangat mantap. Nonton ini juga membuat kita belajar banyak hal tentang teknik memasak Jepang jaman dulu, bahkan ada proses pembuatan miso dan cara menanak nasi secara tradisional. Banyak juga sisipan pesan moril di tiap episode yang terutama berguna banget untuk pelaku industri makanan.
Rating saya : 4.9 / 5
Hungriness Level : 4.7 / 5, tiada ampun deh, dijamin lapar sesudah nonton ini :D semua makanannya disajikan dengan sempurna! Full close up, belum lagi cara menata dan menyajikannya, semua cantik dan bakalan menggelitik perut.


Moral Of The Story : Teknologi memang sangat berguna, tapi bukan segalanya. Yang paling penting tetap mengerjakan semua dengan sepenuh hati. In the end, masakan yang diolah secara tradisional tetap lebih enak dibandingkan yang instan!

4. Bambino
Sinopsis : Sama dengan Osen, dorama ini juga diangkat dari manga, tapi dibuat dalam versi yang sangat-sangat-sangat singkat, karena manga-nya sendiri belum tamat sampai sekarang. Ceritanya tentang Shogo Ban, anak muda yang cinta banget sama dunia masakan Itali. Tadinya dia pikir dia udah jago, tapi begitu terjun ke restoran besar, dia sadar kalau kemampuannya di kampung halaman ternyata nol besar. Dari situlah dia determined untuk berjuang jadi koki yang sebenarnya.



Opini : Lima kali saya nonton dorama ini, dan tiap kali pasti captivated banget sama alur ceritanya. Meski agak "padat" (soalnya mungkin susah juga memadatkan cerita jadi 11 episode sementara komiknya sampai sekarang masih seru-serunya), tapi secara keseluruhan dramanya enak ditonton. Tidak lambat, tapi juga nggak terkesan terburu-buru. Porsi memasaknya seimbang, nggak terlalu mendominasi tapi juga nggak terlalu sedikit. Masalah-masalah yang dialami si tokoh utamanya juga bikin saya bercermin, karena mirip dengan yang biasa saya hadapi. Cara dia menyelesaikan masalah juga bikin saya terinspirasi. Keseluruhan tokoh yang ada di dalamnya juga mengangkat bobot si drama dan menghidupkan ceritanya.
Rating saya : 4.2 / 5




Hungriness Level : 4.6 / 5, dari lima kali drama ini saya setel, sesudahnya pasti saya masak pasta. Hehehe.. nggak mungkin nggak ngiler pasta deh habis nonton ini, semua orang yang saya sodori drama ini juga bilang begitu. Semua makanannya terlihat cantik dan bikin saya pengen menjilat layar monitor :D
Moral Of The Story : Persistence, persistence. persistence!! Meski berbagai cobaan datang, asalkan tujuan kita sudah jelas, yang perlu dimiliki adalah persistence! Pasti dengan begitu, kita melangkah maju! Semangat!

5. Koukousei Restaurant
Sinopsis : Cerita utamanya tentang restoran yang dikelola oleh sekelompok anak SMU dari klub masak sekolah. Suatu hari, mantan koki masakan Jepang datang untuk menjadi pembimbing klub. Selain mengajarkan teknik memasak, pada akhirnya si koki dan para murid SMU sama-sama belajar banyak hal tentang diri mereka masing-masing lewat restoran yang mereka kelola.


Opini : Drama banget. Sepertinya bukan jenis yang bisa ditonton berulang-ulang karena porsi dramanya dominan sekali. Fokus utamanya bukan ke makanan, tapi lebih ke teknis pengolahan dan persiapan makanan untuk skala restoran. Lumayan bagus untuk belajar sistem kerja dapur restoran, tapi itupun hanya diangkat sebagian kecil. Ceritanya lebih condong ke konflik yang dialami restoran yang dikelola sejumlah bocah nggak berpengalaman, kota mereka yang terletak di pelosok dan perjuangan orang-orang untuk menjadikan restoran SMU (Koukousei) ini komoditas pariwisata di kota mereka.
Rating saya : 3 / 5


Hungriness Level : 2.5 / 5, meski proses memasak dan hasil masakannya disorot, tapi nggak cukup untuk membuat perut keroncongan. Hehehe..
Moral Of The Story : Buka restoran itu ternyata rumit :D dan kadang hal yang kelihatannya rumit itu penting supaya kita naik level.

6. Julie and Julia
Sinopsis : Sepertinya sih film ini sudah nggak asing lagi untuk food blogger. Ceritanya tentang Julie yang nge-fans banget sama Julia Child dan memutuskan untuk bikin blog yang isinya kegiatan dia mempraktekkan resep-resep si Julia. Film ini mengkombinasikan autobiografi Julia Child dan pengalaman nyata dari Julie Powell. 


Opini : Suka banget sama film ini! Cara sutradaranya memadukan kehidupan di jaman Julia Child ke modernitas Julie Powell menarik banget. Intensitas masaknya seimbang dengan porsi dramanya, dan meski pindah-pindah antara jaman dulu ke jaman sekarang, scene-nya nggak terasa loncat-loncat. Filmnya juga nggak berat, karena si Meryl Streep disini membawakan karakter Julia yang riang gembira.
Rating saya : 4.75 / 5

 
Hungriness Level : 4 / 5, after all, ini kan auto biografi dari 2 orang karakter, jadi waktu nonton saya lumayan fokus juga ke ceritanya meski makanannya enak-enak semua. Yang pasti sesudah nonton film ini saya langsung google Julia Child dan hunting buku resepnya. Hehehe..
Moral Of The Story : It's all about love <3 melakukan semuanya dengan cinta, hasilnya pasti lebih menyenangkan.

Minggu, 08 Juli 2012

How to Fold Pangsit

Jadi ceritanya kemarin ini saya pengeeeeen banget makan siomay, tapi pengennya siomay yang spesifik rasa homemade. Akhirnya saya praktekkan juga siomaynya, beli kulit siomay yang siap pakai, bahan-bahan, dan praktek deh.

Ternyata membuat siomay itu tricky banget, bentuknya jadi nggak karuan, tapi rasanya enak. Cuma memang agak padat, dan saya nggak berhasil membuat bentuknya berdiri kokoh. Malah sampai memanfaatkan cetakan bolu segala supaya bentuknya cantik.. hiks. Akhir cerita, siomay saya tidak layak tayang.. hehehe dan saya jadi patah semangat.

Kulit siomay yang saya beli jadi sisa banyak, begitu juga dengan bahan isi siomaynya. Yah, tanpa basa-basi saya sulap aja semuanya jadi pangsit. Hehehehe.. ujung-ujungnya malah enakan jadi pangsit daripada siomay. Meski kuahnya ala kadarnya.

PANGSIT (aslinya SIOMAY AYAM UDANG)
resepnya nyontek dari Bu Citra, Radissa Cake

Bahan:
300gram daging ayam cincang (punya saya disubstitusi dengan daging babai giling.. hehe)
200 gram daging udang cincang
2 sdm minyak goreng
150 gram tepung sagu tani
2 butir telur ayam
1 sdm bawang putih cincang.
wortel cincang untuk taburan atas

Bumbu:
2 sdm kecap asin
1 sdm minyak wijen
2 sdt lada
2 sdt garam

Method :
1. Aduk bahan- bahan dan bumbu menjadi satu.
2. Isikan pada kulit pangsit (saya pakai kulit siomay, teksturnya lebih tipis jadi lebih enak)
3. Untuk merebus pangsit : panaskan air agak banyak, setelah mendidih masukkan pangsit, rebus sampai pangsit mengambang, angkat.
4. Untuk kuahnya : saya memakai kaldu instan, lebih bagus lagi kalau memakai air hasil rebusan tulang ayam, beri garam+kaldu sedikit saja. Jangan terlalu gurih karena isian pangsitnya sudah ada rasanya.

Kebetulan kemarin saya sempet mengambil foto step by step cara melipat pangsit model kapal, saya coba share ya, siapa tahu berguna :D

1. Ambil selembar kulit pangsit / siomay. Letakkan di tangan dengan posisi miring seperti belah ketupat.


2. Ambil isian pangsit sebanyak 1 sendok teh atau sesuai selera. Letakkan di tengah kulit pangsit / siomay.


3. Lipat dan pertemukan ujung atas dan bawah pangsit supaya membentuk segitiga.


4. Beri air di ujung-ujung pangsit untuk merekatkan kulit pangsit / siomay supaya tidak terbuka saat direbus. Kemudian beri sedikit air di permukaan ujung kiri atau kanan untuk merekatkan kedua ujung jadi satu.


5. Pertemukan ujung kiri dan ujung kanan dengan membalik salah satunya. Jadi bagian belakang ujung kiri yang bertemu dengan bagian depan ujung yang kanan. Hal ini supaya setelah direbus, bentuknya bisa cantik dan meyerupai kapal :D



 6. Tadaaa! Inilah hasil akhirnya setelah direbus, maaf ya fotonya ala kadarnya. Sudah keburu lapar dan terkuras energinya. Hehehe..


Terima kasih sudah berkunjung :)

Burnt-by-Pot Miso Soup, OSEN style

Hwaaa.. udah lama banget nggak update blog. Terlalu idealis, maunya update dengan cerita yang wah, tapi akhirnya malah nggak selesai-selesai artikelnya, hehehe..

Untuk menebus dosa, saya mau share resep yang unik banget. Ini hasil dari nonton drama Jepang, OSEN. Osen ini banyak bercerita soal budaya Jepang dan cara masak Jepang tradisional, seneng banget lah nonton dramanya. Nah, di episode 2 temanya tentang miso, pasta kedelai yang difermentasi.


Saya sih suka banget dengan miso, dan membuat sup miso itu ternyata ada tekniknya juga lho. Nggak bisa sembarangan cemplung, karena nanti aroma misonya nggak keluar. Dulu teknik yang saya tahu, nggak ada yang membolehkan misonya mendidih, jadi setelah misonya dilarutkan ke air kaldu, dimasak dan sebelum mendidih sudah diangkat dan disajikan.

Yup! Without dashi it is!

Makanya waktu nonton Osen episode 2 ini saya takjub, ternyata ada metode masak lain yang sangat menarik. Pas dijajal juga rasanya enak, lumayan menguntungkan juga untuk yang nggak punya dashi (kaldu ikan) karena masaknya hanya perlu pakai miso thok. Untuk yang suka coba-coba, silakan praktekkan, menurut saya rasanya sih enak :D

MISO SOUP WITHOUT DASHI
(Burnt-by-Pot Miso Soup)
By : Osen

Bahan versi saya (untuk 2 porsi) :
2 mangkok kecil air (pakai mangkok saji untuk menakar airnya)
2 sdm miso (boleh dilebihin kalau suka yang lebih pekat)
1 batang daun bawang

Caranya begini nih :

1. Panaskan panci yang agak besar, kalau bisa yang dasarnya agak lebar. Pakai api besar ya supaya pancinya benar-benar puanaas.


2. Di panci lain yang berisi air, larutkan miso. Lebih baik membuatnya jangan untuk porsi yang terlalu besar supaya rasanya bisa optimal.

Kalau Osen, misonya dilarutkan dengan saringan supaya tidak ada ampasnya.

3. Di panci yang berisi larutan miso itu, serut batang daun bawang seperti menyerut pensil.


4. Setelah itu, tuang larutan miso ke panci kosong yang sudah dipanaskan.




 5. Tidak perlu takut misonya gosong, karena memang itulah metodenya untuk menghasilkan aroma sup yang enak. Goyang-goyangkan pancinya supaya sup misonya terkena permukaan panci panas secara merata.


 6. Matikan api, tuang ke mangkok dan hidangkan.




 Kalau di dramanya sih, mereka bilang metode ini nggak bisa dipraktekkan dengan miso instan. Harus dengan miso homemade.


Tapi kemarin saya praktek dengan miso instan produk Korea dan rasanya oke-oke saja menurut saya. Rasanya memang agak pekat, jadi sepertinya tidak cocok untuk dimakan dalam jumlah banyak, sedikit saja untuk teman semangkok nasi.

Sup miso yang saya buat, ditambah potongan tahu.
Bagus untuk diet sepertinya, karena makan sedikit aja sudah cukup kenyang. Hehehe.. selamat mencoba yaa.